Selasa, 02 Oktober 2012

Mikrosporangium

-->
MIKROSPORANGIUM

            Pada kebanyakan Angiospermae, stamen (benang sari) tersusun atas anthera (kepala sari) yang mengandung mikrosporangium (tempat dihasilkan pollen) dan jaringan penghubung (connective tissue), serta filament (tangkai sari). Anthera Angiospermae umunya terdiri dari 4 mikropsorangia (tetrasporangia) ini dijumpai pada kurang lebih 190 famili tumbuhan, tetapi ada juga tumbuhan lainya yang bertipe bisporangiate seperti pada Adoxaceae, cirseasteraceae, Epacridaceae, Malvaceae, Phylidraceae dan Restinaceae. Bixaceae mempunyai 8 sporangiate. Multi sporangiate anthera dijumpai pada Rhizoporaceae, Gentinaceae dan Loranthaceae.
            Anthera muda tersusun atas masa sel homogen yang dikelilingi oleh epidermis. Selama perkembanganya diperkirakan menampakkan empat lobus dan setiap lobus beberapa sel hipodermal menjadi lebih jelas dari pada sel lainya karena ukuranya yang lebih besar, memanjang radial dan inti jelas. Sel-sel ini mengandung archesporangium yang tersusun dari sel-sel berbaris vertikal dan pada sayatan melintang tampak memipih datar.
            Lapisan parietal primer mengalami seri pembelahan periklinal dan antiklinal membentuk 2-5 lapisan kosentrik dinding anthera. Sel-sel sporogenus setelah beberapa mitosis akan berfungsi sebagai sel induk mikrospora. Dinding anthera matang mempunyai lapisan-lapisan dari luar sampai ke dalam, yaitu epidermis, endotesium, 2 atau 3 lapisan tengah dan terakir lapisan tapetum. Berdasarkan perilaku lapisan parietal sekunder, ada empat tipe dinding anthera :
1.      Basic type, lapiasan parietal sekunder luar dan dalam membelah periklinal membentuk endotesium, 2 lapisan tengah dan lapisan tapetum.
2.      Dicotiledonous type, lapisan parietal luar membelah menjadi lapisan endotesium dan lapisan tengtah, sedangkan lapisan parietal dalam menjadi lapisan tapetum.
3.      Monocotiledonous type, lapisan parietal dalam membelah menjadi lapisan tapetum dan lapisan tengah sedangkan lapisan parietal luar menjadi lapisan endotesium.
4.      Reduced type, lapisan parietla sekunder luar dan dalam membentuk endotesium dan tapetum, sedangkan lapisan tengah tidak ada
EPIDERMIS
            Selama perkembangan anthera, sel-sel epidermis mengalami pembelahan antiklinal untuk mengatasi perluasan yang cepat dari jaringan internal. Pada anthera matang epidermisnya meragang dan memipih. Epidermis berfungsi sebagai jaringan pelindung.

ENDOTESIUM
            Sel mengalami proses pemanjangan, lapisan ini mencapai perkembangan saat anthera telah siap pecah dan memancarkan pollen. Sel-selnya mengembangkan pita-pita fibrous yang muncul dari dinding tangensial dalam (terkadang dari dinding radial) dan memanjang ke luar dan ke atas, serta berakir dekat dinding luar tiap sel. Lapisan ini mengandung a-selulose dan lignin.

LAPISAN TENGAH
            Sel-selnya tipis dan menjadi pipih serta rusak saat awal meiosis dari sel induk pollen. Pada beberapa tumbuhan, satu atau lebih lapisan tengah tetap dipertahankan (Lillium dan Ranunculus). Pada kebanyakan tumbuhan sel-sel lapisan tengah merupakan pusat penyimpanan amilum.

TAPETUM
            Lapisan terdalam dari dinding anthera dan mencapai perkembangan maximum pada tahap tetrad dari mikrosporogenesis. Bagian dalam dikelilingi jaringan sporogen dan berperan penting dalam menyalurkan nutrisi ke jaringan sporogen. Umumnya satu lapis sel-sel yang mengandung banyak sitoplasma dan inti tampak jelas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima kasih atas komentarnya mudah-mudahan bermanfaat